Putra Toraja Nge-Blog

June 6, 2008

FPI, Bubar, Tidak, Bubar, Tidak

Filed under: Artikel Menarik — zlatan82 @ 1:35 pm
Tags: , , , ,

“GAJAH di pelupuk mata tak tak tampak, semut di seberang lautan tampak.”

Itu mungkin kata yang paling tepat untuk melihat sejumlah persoalan bangsa yang muncul akhir – akhir ini. Termasuk juga masalah perseteruan antara FPI (Front Pembela Islam) dengan AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan). Hingga kemudian klimaksnya berbuntut unjuk aksi kekuasaan dan kebringasan diantara kedua belah pihak ahad lalu. Sungguh amat memilukan hati sanubari bangsa.

Benar–benar sangat disayangkan. Justru karena peristiwa terjadi pada hari yang paling sakral bagi Republik ini. Di hari suci saat lahirnya Panca Sila dikukuhkan sebagai landasan berbangsa pada 1 Juni 63 tahun lalu.

Amat sangat menyayat kalbu dan mencoreng sejarah anak bangsa. Karena mereka melakukannya di tempat yang paling agung bagi negeri ini, lapangan Monumen Nasional. Dimanakah pemimpin bangsa ini kini? Siapa lagi yang mampu meredam, mengendalikan sekaligus mengarahkan gejolak emosi bangsa saat ini? Siapa sebenarnya yang selalu saja mencoba memancing permasalahan kearah kaos?

Semua mengerti bahwa lapangan Monumen Nasional dahulunya adalah lapangan Ikada. Tempat dimana ratusan ribu pemuda hingga para gaek pernah berteriak “Allahu Akbar” siap berjihad fi sabillillah, demi tegaknya martabat bangsa Indonesia serta demi berkibarnya sang saka Merah Putih. Disana pulalah ratusan ribu pemuda Betawi dengan segala keikhlasannya berjam–jam berjemur diri, siap rela menjadikan kampung halamannya tercinta menjadi “danau berdarah”.

Atas nama cita–cita luhur dan suci kemerdekaan negeri ini. Demi mewujudkan negeri yang adil makmur sejahtera tanpa penjajahan dalam bentuk apapun.

Negeri yang dikatakan seperti tertuang pada Mukadimah UUD 1945 “membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Baldathun Thoyibah warobbun Ghafur. Gemah Ripah loh jinawi aman tentrem kertoraharjo.

Tercatat sejarah, ratusan ribu pemuda Betawi beserta puluhan elemen–elemen Islam maupun nasionalis saat itu, mampu membubarkan diri dalam sekejap mata.

Tanpa harus muncul keributan atau tetesan darah sebulirpun. Yakni, setelah sang Penyambung Lidah Rakyat Bung Karno, tampil menenangkan gejolak letupan emosi masa yang siap meledak kapan saja dimana saja diseantero negeri. Terbukti dalam hitungan hari kemudian, Indonesia akhirnya memproklamirkan kemerdekaan dan tentara Jepang diusir pulang ke tanah kelahiran asalnya.

Terukir dalam tinta emas sejarah bahwa kala itu ada “dialog” dengan pemimpin bangsa yang dipanuti. Ada kesadaran, kebersamaan serta ikatan saling percaya diantara para pemimpin mereka. Bukan karena kekuasaan yang ditonjolkan ataupun kekuatan yang dikedepankan. Lebih–lebih merasa dirinyalah yang paling mengerti serta paling benar. Yang kesemuanya justru berujung merontokkan nilai–nilai kemanusiaan, kebangsaan, kebersamaan bahkan keagamaan. Melahirkan kebuntuan yang berujung pada kaos kekerasan.

FPI dan Betawi

Sungguh adalah sesuatu yang mencengangkan, bila sekonyong–konyong muncul aba–aba “bubarkan FPI tangkap pimpinannya”. Hanya karena tidak ada lagi pada bangsa ini jiwa rasa saling percaya. Bukankah adalah lebih baik bila ada saling menghormati satu dengan lainnya, serta sadar akan tempat dimana ia hidup dan berada. Mengerti menghitung secara masak–masak langkah masing–masing apakah kelak akan menuju pada kehancuran ketimbang kebersamaan. Tindakan yang lebih mendahulukan hal–hal utama daripada urusan–urusan sepele yang hanya melahirkan kerusakan dan perselisihan.

Tampaknya kesemuanya hanya bisa dicapai melalui “dialog” dari hati ke hati. Tetap mengusung kerukunan, rasa cinta serta mengutamakan masa depan bangsa. Walaupun harus menyita waktu berhari–hari bahkan bertahun–tahun.

Roma tidak didirikan dalam sehari. Bukan dengan cara seperti membalikkan tangan, kemudian menganggap seluruh persoalan akan selesai. Apalagi membrangus FPI dan mencampakkannya dengan segudang stigma keji tak beralasan. Seperti anti Panca Sila ataupun Islam kekerasan. Jauh panggang dari Api.

Muncul di sekitar tahun 1998-an FPI sebenarnya berbasiskan pada masa keagamaan rural Betawi. Layaklah bila kemudian memiliki kultur serta slogan yang dirasakan kurang tolerans apalagi moderat. Sehingga janganlah kita masih berharap dan menginginkan munculnya sosok bak dalam sinetron Si Doel anak Betawi pada tubuh FPI. Gambaran bocah jebolan universitas yang lugu dan selalu nrimo layaknya orang Jawa.

Karena hingga kapanpun, amatlah sulit untuk mencabut kultur Betawi asli pada kebanyakan masyarakat di beberapa belahan Jakarta, yang sering menampilkan personifikasi Bang Jampang ataupun Bang Pitung asal Djiung. Kultur yang menggambarkan seorang jawara tak gentar dengan kemiskinan serta tekanan pihak penguasa manapun, demi melindungi masyarakatnya dari serangan cengkraman budaya Barat. Sekalipun dalam kesehari–hariannya ia juga dituntut untuk menjadi Robin Hood guna semakin mempererat rasa kebersamaan serta kesetiakawanan mendalam diantara mereka. Itulah kenyataan yang melekat erat sekarang pada tubuh FPI saat ini. Dan sebenarnya merupakan perwujudan ungkapan psikologis indegeneous people Betawi yang telah termarginilisasikan semenjak Jakarta membangun.

Layakkah bila FPI yang nota bene merupakan pengejawantahan budaya Islam Betawi itu dibubarkan? Benarkah ada cabang–cabang FPI tersebar di seluruh Indonesia?

Seperti yang terjadi di Cirebon ada plang cabang FPI namun ternyata hanya papan nama belaka. Karena kantor yang dipakai adalah rumah penduduk biasa. Benarkah FPI identik dengan Islam kekerasan? Walaupun telah nyata – nyata foto yang ditampilkan pada sebuah harian adalah gambar anggota mereka sedang mencekik anggota sendiri untuk mencegah tindakan beringas tanpa arah.

Ataukah kekerasan yang telah ditampilkan merupakan kekerasan dalam rangka mendidik. Pola khas didikan Islam ala Betawi warisan Bang Jampang dan Bang Pitung, yang kedua hero tersebut tak bisa dipungkiri selalu berada di mesjid saat adzan memanggil. Lantas haruskah kita membela yang lain dengan memvonis FPI tanpa melihat secara mendalam apa dan siapa sebenarnya organisasi ini? Inikah yang dikehendaki oleh kebangsaan, kebebasan dan keagamaan?

Sepertinya tidak ada seorangpun yang mau mengingat bahwa ribuan anggota FPI pernah berlayar menempuh gelombang dengan biduk–biduk kecil tulus ikhlas tanpa pamrih membantu penderitaan saudara sesama muslim mereka di Aceh, saat badai ganas Tsunami menggulung negeri Serambi Mekah itu. Tidak ada lagi yang mau mengenang bagaimana peran FPI mencegah puluhan bocah muslim bebas dari terkaman NGO – NGO keagamaan asing yang menghendaki para bocah itu bukan saja berpindah negeri tetapi juga beralih agama. Atau juga pura–pura lupa atau enggan menerima kenyataan kala FPI serta MMI (Majelis Muslim Indonesia) bersama–sama menyingsingkan lengan untuk menahan semakin meluasnya pembunuhan terhadap umat Islam di Maluku. Selalu saja hanya sosok Islam kekerasan yang disematkan kepada FPI.

Sementara mereka yang berada dalam AKKBB seharusnya telah benar–benar mengerti bahwa nantinya mereka akan berhadapan dengan Islam Betawi, bila selalu saja nekat mengusung gagasan kebebasan itu. Sekalipun sebenarnya bila ditengok gagasan tidaklah lebih keji ketimbang kekerasan itu sendiri. Karena gagasan pada akhirnya akan pula merusak kemurnian pikiran dan kekerasan hanya mampu merusak tubuh. Seperti kata Mohamad Iqbal, ideologi patah tumbuh hilang berganti.

Dialog dan Pimpinan Nasional

Kini telah kekerasan menunjukkan kearah trend yang semakin meluas. Gagasan juga bukan tidak mungkin akan semakin berkembang kearah yang negatif. Masyarakat Betawi dengan segala kelebihan maupun kekurangannya, bisa saja tetap tak akan bergeming berpegang pada prinsip kultur mereka. Seperti juga Cut Nyak Dien di Aceh, Bang Jampang selalu mengumpat “kafir harus dilawan, ente idup di rumah ane makenye pake aturan ane”.

Dalih kebebasan berserikat yang dijamin oleh undang – undang akan pula kumandangkan oleh FPI. Bila nanti ada pertanyaan mengapa di masa Suharto organisasi Solidamor (Solidaritas untuk Timor Timur) yang jelas – jelas telah mengadu sesama agama dan anak bangsa (Timor Katolik), tidak segera dibubarkan pada saat itu? Lantas mengapa kini FPI harus dibrangus demi kepuasan kelompok tertentu? Dimana pemimpin nasional yang mampu meredamkan gejolak letupan para pemuda Betawi? Masih terkuakkah pintu dialog diantara pemimpin masyarakat negeri ini? Wallahu alam bi sawab.

(Penulis adalah kandidat PhD Universitas Ankara, Turki dan pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Depok)

3 Comments »

  1. HANYA ORANG2 YG NON MUSLIM AND ORANG2 YG BODOH MENGHENDAKI FPI BUBAR,
    COBA LIHAT BENAR2 AKAR DARI SEMUA MASALAH INI..PENISTAAN AGAMA ISLAM OLEH JAI..!!
    SIAPA TOKOH YG MENGGEBU GEBU FPI DI BUBARKAN..?
    JAWAB GUS DUR,ADA APA DENGAN GUSDUR BEGITU MEMBENCI FPI..
    PERNAH KAH ANDA MENDENGAR ATAU MELIHAT GUS DUR OR ANTEK2 NYA (GARDA BANGSA,BANSER)
    MELAKUKAN GERAKAN YG REAL SEPERTI FPI UNTUK MENOLAK SESUATU YG BERTENTANGAN DENGAN SYARIAT ISLAM..??
    MALAH GUS DUR MENOLAK UUD ANTI PORNOGRAFI,MEMBELA AHMADYAH,AKU BINGGUNG DENGAN FIGUR GUSDUR..
    Nafsu Ahmadiyah belum dipuaskan sampai dengan keluar statemen GUSDUR yg notabene mempolitisir NU
    sebagai tunggangan politiknya dan ISRAEL sebagai gandengannya mengusulkan pembubaran FPI.
    Terpancing statemen gusdur habib Rizq membalas dengan lebih tajam dan pedas.
    Harapan Ahmadiyah dan Gusdur dalam menghancurkan musuh bebuyutan mereka berhasil
    dengan respon dari GARDA BANGSA,BANSER NU yg siap mengerahkan ribuan orang ke Jakarta untuk
    membubarkan sekretariat FPI yg merupakan rumah Habib Rizq berisikan hanya istri dan 6 orang gadis anaknya.
    SAYA MERAGUKAN KEIMANAN tokoh-tokoh yang tergabung dalam AKKBB seperti GUS DUR,Adnan Buyung Nasution dan Todung Mulya Lubis..!!!
    TAPI TOKOH2 DI ATAS KALAU GAK BELA AHMADYA OR AKKBB GAK DAPET LAGI DANA SEGAR DARI USA,UK,AND ISRAEL..SSSTTTT!!!

    TERUS BERJUANG FPI TEGAKKAN SARYAT ISLAM…KAMI UMAT ISLAM INDONESIA YG 100 % KE ISLAMAN NYA SIAP MENDUKUNG..!!!

    Comment by andi fatulah — June 8, 2008 @ 6:28 am | Reply

  2. blog km bgs bgt nih?

    hiiiiiiii

    Comment by denoksk — October 27, 2008 @ 10:06 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.